
Saat The Rivals of Amziah King mulai memenuhi layar bioskop, Matthew McConaughey bersama penulis sekaligus sutradara Andrew Patterson mengenang proses di balik film tersebut—sebuah perpaduan unik layaknya jamuan potluck yang menggabungkan musik, komunitas, dan dunia peternakan lebah.
“[Amziah] memberikan rasa memiliki. Dia adalah pembawa cahaya, dan menempatkan orang-orang dalam cahaya yang ia yakini dimiliki oleh setiap orang. Dia membuat semua orang menjadi pusat dari lingkaran. Ada sesuatu yang indah dari musiknya, humornya, hubungan antarmanusianya, serta ekspresi fisik dari karakter-karakter ini.”
— Matthew McConaughey
Ada sebuah adegan dalam The Rivals of Amziah King ketika Amziah (Matthew McConaughey) menjelaskan berbagai jenis lebah yang membentuk sebuah koloni: lebah jantan, lebah pekerja, dan ratu lebah. Peternak lebah asal Oklahoma yang telah lama menekuni profesinya itu sedang membagikan pengetahuannya kepada Kateri (Angelina LookingGlass), mantan anak asuhnya yang tiba-tiba muncul kembali tanpa kabar.
Setelah mereka bertemu di sebuah restoran melalui serangkaian kejadian aneh namun kebetulan menguntungkan, Amziah mengajak Kateri berada di bawah perlindungannya sebagai “lebah pekerja” baru sekaligus anggota koloninya. Begitulah yang biasa ia lakukan terhadap kebanyakan orang terlantar yang datang ke dalam hidupnya, dalam film koboi modern yang unik ini, tentang dunia produksi madu yang ternyata menyimpan taruhan dan risiko yang jauh lebih besar dari perkiraan.
Seperti yang diperlihatkan Amziah dalam pelajaran tersebut, ratu lebah adalah pusat dari seluruh kehidupan koloni. Tanpanya, koloni akan runtuh. Para serangga melindungi sang ratu, berkumpul menjadi massa yang bergerak dan berdengung di atas tangannya. The Rivals of Amziah King pada dasarnya adalah kisah tentang satu ratu yang menggantikan ratu lainnya demi menjaga koloni tetap utuh—meskipun pada titik ini, kita sebenarnya tidak lagi sedang membicarakan lebah.
Film ini merupakan pencapaian luar biasa sebagai film kedua bagi penulis sekaligus sutradara Andrew Patterson—sebuah karya berani, unik, dan penuh aksi yang menjadi tindak lanjut dari film debutnya pada 2019, The Vast of Night, sebuah misteri fiksi ilmiah berlatar tahun 1950-an yang dibuat dengan anggaran sangat terbatas.
Dengan sumber daya yang lebih besar dan sejumlah bintang film dalam jajaran pemainnya, Patterson memperluas visinya, membawa kembali para kolaborator terdekatnya, dan menghasilkan salah satu film paling mengejutkan serta orisinal tahun ini: sebuah film penuh energi yang dipenuhi musik bluegrass, sekaligus potret pulp Selatan yang eksentrik.
Film ini imersif, digerakkan oleh karakter, dan memiliki gaya visual yang kuat; sebuah karya yang tajam dan menyenangkan, dengan karakter yang begitu khas dan tidak kehilangan kepribadiannya dalam proses produksi. Ini adalah jenis film yang bisa dengan mudah direkomendasikan kepada siapa saja.
Hal serupa juga dapat dikatakan tentang Tuner, yang hadir pada musim panas ini dan juga diproduksi serta didistribusikan oleh Black Bear. Film tersebut semakin memperkuat reputasi Black Bear sebagai studio yang mendukung film-film dengan nuansa “film seperti dulu sudah tidak dibuat lagi.”
Dalam The Rivals of Amziah King, adegan tentang ratu lebah menjadi titik ketika film beralih dari dunia yang liar, kocak—namun dirancang dengan sangat sengaja—menuju sebuah film noir Selatan yang lebih elegan.
Amziah menyerahkan pengelolaan pabrik madu kepada Kateri, sebagaimana McConaughey, seorang bintang film peraih Oscar, secara simbolis menyerahkan film ini kepada Angelina LookingGlass, yang menjalani debut akting filmnya.
Masing-masing bagian film mencerminkan karakter yang menjadi pusat ceritanya. Bagian pertama terasa penuh energi, padat, dan dipenuhi musik. Sementara bagian Kateri lebih tenang dan metodis, seperti tokoh utamanya yang bergerak tanpa terdeteksi di tengah komunitas tersebut, menebarkan kekacauan sekaligus menjalankan rencana balas dendamnya.
Namun, bagian kedua membutuhkan bagian pertama agar dapat berfungsi dengan baik. Kita perlu mengenal “koloni” ini dan para “lebah” yang hidup di dalamnya agar segala sesuatu dapat terasa masuk akal dan tepat.
Patterson memastikan semuanya telah dipersiapkan dengan matang. Setiap detail terasa seperti hidangan yang menawarkan sesuatu yang berbeda namun tetap diperlukan agar keseluruhan sajian terasa lengkap—seperti acara makan bersama komunitas yang diperkenalkan Amziah kepada Kateri.
The Vast of Night dikenal melalui penggunaan long take yang epik, berkat sinematografer M.I. Littin-Menz. Ia kembali menangani sinematografi The Rivals of Amziah King, menghadirkan keindahan naturalistik yang disinari cahaya matahari serta penggunaan close-up yang penuh pertimbangan.
Namun, kekuatan logika film ini justru terletak pada proses penyuntingannya. Film dibuka dan ditutup dengan motif patah-patah stop-start yang seolah mengganggu ritme kita, membawa penonton masuk ke dunia sebuah kota kecil di Oklahoma, tempat sebuah band bluegrass bermain di area parkir restoran.
Patterson dan editor Patrick J. Smith merangkai adegan-adegan penuh intrik dan kekerasan mengejutkan, mengambil kebebasan dalam bagian-bagian cerita Amziah, serta menghadirkan rangkaian musikal yang begitu membara.
Dengan jajaran pemain ansambel yang besar, setiap karakter mendapatkan porsinya masing-masing, termasuk Kurt Russell sebagai Dob McCoy, antagonis dari sektor pertanian skala besar yang muncul belakangan. Namun, bahkan sang penjahat pun mendapatkan kisah yang digarap secara utuh.
Secara struktur, The Rivals of Amziah King adalah film yang aneh sekaligus menentang ekspektasi. Film ini terasa seperti sebuah film hangout yang berantakan namun menyenangkan, dimulai sebagai kisah kriminal kecil di kota kecil, kemudian berubah menjadi film balas dendam bergaya western tentang kompleksitas keadilan para penjahat.
Namun, inti emosionalnya tetap berada di tempat yang tepat, berkat penampilan Matthew McConaughey yang mentah dan penuh jiwa.
Ini adalah wilayah akting yang sudah cukup akrab bagi McConaughey, terutama dalam fase kariernya belakangan ini: sosok pria baik-baik dari Selatan yang licik, liar, dan hampir seperti manusia yang hidup sepenuhnya berdasarkan nalurinya.
Namun, ada sesuatu yang terasa lebih lembut dalam versi McConaughey kali ini. Hal tersebut sebagian besar muncul berkat penampilannya bersama Angelina LookingGlass, yang memiliki daya tarik tenang di layar dan mampu memikul bagian ceritanya dengan sangat baik.
Judulnya mungkin menyatakan bahwa film ini berkisah tentang para rival Amziah King, tetapi itu hanyalah pengalih perhatian.
Pada akhirnya, film ini sebenarnya adalah kisah tentang masa kejayaan Kateri.