Bandung, 17 Oktober 2026 — Bisakah film menjadi ruang pertemuan antara penonton, pembuat film, dan mereka yang peduli terhadap kehidupan hewan di sekitar kita? Pertanyaan tersebut menjadi salah satu gagasan yang melatarbelakangi Should We Save the Cat?, sebuah program pemutaran film pendek yang diselenggarakan oleh Ophiuchus Project bersama Bioskop Kampus Liga Film Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (LFM ITB), Bahasinema, dan ITB Street Feeding.
Berlangsung pada Sabtu, 17 Oktober 2026, di Ruang 9009, ITB Ganesha, Bandung, kegiatan ini mempertemukan film, diskusi, dan aksi sosial dalam satu ruang bersama. Tidak sekadar menghadirkan tontonan, Should We Save the Cat? dirancang sebagai wadah bagi masyarakat umum, pencinta kucing, serta pelaku perfilman untuk berbagi perspektif dan membangun kepedulian terhadap keberadaan kucing liar, khususnya di lingkungan kampus ITB.
Melalui pemutaran sejumlah film pendek, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya mendukung distribusi film independen Meong! (2026), karya sutradara Fransiska Fernanda. Pada saat yang sama, kegiatan penggalangan dana atau crowdfunding yang menyertainya diharapkan dapat membantu ITB Street Feeding dalam mengelola pemeliharaan dan perawatan kucing liar di sekitar kampus.
Kolaborasi ini memperlihatkan bagaimana pemutaran film dapat dikembangkan menjadi ruang partisipasi sosial. Film tidak berhenti ketika layar menjadi gelap, tetapi membuka percakapan tentang kehidupan sehari-hari, relasi manusia dengan lingkungan, dan tanggung jawab terhadap makhluk hidup yang berbagi ruang dengan manusia.
Sinema sebagai Ruang Pertemuan dan Kepedulian
Di lingkungan kampus, keberadaan kucing liar merupakan bagian dari realitas sehari-hari yang kerap dijumpai oleh mahasiswa, tenaga pendidik, pekerja, maupun pengunjung. Namun, kedekatan tersebut tidak selalu diikuti dengan pemahaman mengenai kebutuhan pemeliharaan dan perawatan hewan.
Dalam konteks itulah Should We Save the Cat? menghadirkan sinema sebagai pintu masuk untuk membicarakan kepedulian terhadap hewan. Alih-alih membatasi kegiatan pada kampanye sosial konvensional, program ini menggunakan film sebagai medium untuk mempertemukan beragam pengalaman dan cara pandang.
Melalui film dan diskusi, penonton diajak melihat persoalan kepedulian terhadap hewan dari perspektif yang lebih luas. Perhatian terhadap kucing liar tidak hanya berkaitan dengan rasa suka terhadap hewan, tetapi juga menyangkut bagaimana manusia memahami keberadaan makhluk hidup lain di ruang yang digunakan bersama.
Kegiatan ini turut membuka kemungkinan kolaborasi antara komunitas film dan komunitas sosial. Keduanya memiliki pendekatan berbeda, tetapi dapat bertemu melalui tujuan yang sama: membangun kesadaran publik dan mendorong keterlibatan masyarakat.
Bagi penyelenggara, pemutaran film menjadi kesempatan untuk memperluas fungsi ruang pemutaran. Bioskop kampus tidak semata-mata menjadi tempat menikmati karya audiovisual, tetapi juga ruang untuk membicarakan persoalan sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ophiuchus Project dan Perjalanan Film Independen
Program Should We Save the Cat? diinisiasi oleh Ophiuchus Project, sebuah rumah produksi independen yang berbasis di Bandung, Indonesia. Rumah produksi ini lahir dari inisiatif sejumlah alumni Liga Film Mahasiswa Institut Teknologi Bandung.
Dalam perjalanannya, Ophiuchus Project memproduksi sejumlah film yang kemudian didistribusikan ke berbagai festival film dan program pemutaran. Beberapa karya tersebut antara lain Cecilia (2025), Meong! (2026), dan Intel Tepi Gerobak (2026).
Bagi rumah produksi independen, distribusi merupakan bagian penting dari perjalanan sebuah film. Setelah proses produksi selesai, sebuah karya masih membutuhkan ruang untuk bertemu dengan penonton, memperoleh tanggapan, serta membangun percakapan yang lebih luas.
Pemutaran Meong! melalui Should We Save the Cat? menjadi salah satu upaya untuk mempertemukan film tersebut dengan audiens melalui program yang memiliki kedekatan tematik.
Alih-alih berdiri sendiri sebagai agenda pemutaran sebuah rumah produksi, kegiatan ini dikembangkan melalui kolaborasi dengan komunitas pemutaran film, programmer, dan komunitas yang bergerak dalam kepedulian terhadap kucing liar.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa distribusi film independen dapat dibangun melalui jejaring komunitas. Pemutaran menjadi kesempatan bagi film untuk menjangkau penonton baru, sementara kolaborasi dengan komunitas sosial membuka kemungkinan agar pengalaman menonton terhubung dengan persoalan di luar layar.
Empat Film Pendek dalam Satu Program
Program Should We Save the Cat? menghadirkan empat film pendek pilihan Nanda Maulana, programmer dari Bahasinema. Film-film tersebut dipilih untuk membangun program pemutaran yang memiliki keterkaitan tematik dengan Meong! (2026).
Keempat film yang ditayangkan adalah:
1. Whisper of the Horizon (2025)

Film yang disutradarai oleh Agni Nurhalisah ini menjadi salah satu bagian dari program pemutaran yang mempertemukan beragam karya sineas Indonesia dalam satu ruang apresiasi.
2. Percakapan Harimau (2025)

Disutradarai oleh Beny Kristia, film ini turut melengkapi rangkaian film pendek yang dipilih untuk program Should We Save the Cat?.
3. How to be Forgiven by God? (2022)

Film karya Adzka Pramuditha ini memperluas rentang karya yang ditampilkan dalam program, dengan menghadirkan film dari tahun produksi yang berbeda.
4. Meong! (2026)

Disutradarai oleh Fransiska Fernanda, film ini merupakan karya Ophiuchus Project yang menjadi salah satu titik perhatian dalam kegiatan pemutaran sekaligus bagian dari upaya distribusi film tersebut.
Melalui pilihan film yang beragam, program ini berupaya menghadirkan pengalaman menonton kolektif yang tidak berhenti pada penilaian terhadap aspek artistik sebuah karya. Pemutaran juga menjadi ruang untuk membangun hubungan antara tema film, pengalaman penonton, dan persoalan yang diangkat dalam diskusi.
Pemilihan film oleh seorang programmer memiliki peran penting dalam membentuk pengalaman tersebut. Rangkaian karya tidak sekadar disusun sebagai daftar tontonan, tetapi ditempatkan dalam satu program yang memungkinkan penonton menemukan hubungan antarkarya dan merumuskan pertanyaan yang relevan.
Dalam Should We Save the Cat?, hubungan tematik dengan Meong! menjadi salah satu landasan penyusunan program, dengan harapan dapat meningkatkan kesadaran mengenai keberadaan kucing dan hewan lainnya, terutama di lingkungan kampus ITB.
Diskusi yang Mempertemukan Pembuat Film dan Komunitas
Setelah pemutaran film, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi yang mempertemukan pembuat film dan perwakilan komunitas.
Diskusi dimoderatori oleh Nanda Maulana dari Bahasinema. Sementara itu, Agni Nurhalisah dan Fransiska Fernanda hadir sebagai pembuat film, didampingi Idem dan Sari Alessandra sebagai penanggap dari ITB Street Feeding.
Kehadiran para pembuat film membuka ruang untuk membicarakan karya dari perspektif proses kreatif, sementara keterlibatan ITB Street Feeding memberikan kesempatan bagi persoalan kepedulian terhadap hewan untuk hadir dalam percakapan yang sama.
Pertemuan ini penting karena film dan kerja komunitas memiliki titik berangkat yang berbeda. Pembuat film bekerja melalui gagasan, narasi, gambar, dan suara, sedangkan komunitas sosial berhadapan langsung dengan kebutuhan dan persoalan yang mereka temui dalam aktivitas sehari-hari.
Ketika keduanya bertemu dalam sebuah forum, film dapat menjadi medium untuk memperkenalkan suatu persoalan kepada audiens yang lebih luas. Sebaliknya, pengalaman komunitas dapat membantu memperkaya percakapan penonton mengenai realitas yang berada di luar pengalaman mereka sendiri.
Diskusi pascapemutaran juga memberikan kesempatan bagi penonton untuk mengolah pengalaman menonton menjadi percakapan bersama. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya menempatkan audiens sebagai penerima karya, tetapi juga sebagai bagian dari proses pertukaran gagasan.
Meskipun demikian, dampak dari diskusi semacam ini tidak semata-mata dapat diukur melalui jumlah orang yang hadir. Salah satu nilai pentingnya terletak pada terbukanya ruang perjumpaan antara pihak-pihak yang mungkin memiliki perhatian serupa, tetapi bergerak melalui jalur yang berbeda.
Crowdfunding untuk Mendukung Perawatan Kucing Liar
Selain pemutaran dan diskusi, Should We Save the Cat? juga membawa misi sosial melalui kegiatan crowdfunding yang diharapkan dapat membantu ITB Street Feeding dalam mengelola pemeliharaan serta perawatan kucing liar di sekitar lingkungan kampus.
Kehadiran ITB Street Feeding dalam kegiatan ini menempatkan kepedulian terhadap hewan sebagai salah satu bagian penting dari program. Dukungan yang diharapkan tidak hanya berkaitan dengan perhatian publik, tetapi juga dengan upaya membantu komunitas dalam menjalankan kegiatan perawatan kucing liar.
Dalam kerangka tersebut, Should We Save the Cat? mencoba menghubungkan apresiasi terhadap karya film dengan kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial.
Hubungan antara keduanya tidak berarti bahwa film secara otomatis menyelesaikan persoalan kesejahteraan hewan. Namun, pemutaran dapat menjadi salah satu cara untuk membuka percakapan, memperluas jangkauan informasi, dan mempertemukan orang-orang yang memiliki kepedulian terhadap isu yang sama.
Melalui pendekatan ini, penonton memperoleh kesempatan untuk melihat bahwa kegiatan kebudayaan dapat beririsan dengan kehidupan sosial. Sebuah program film dapat menjadi ruang untuk mengenal komunitas, memahami persoalan, dan menemukan kemungkinan keterlibatan yang lebih nyata.
Adapun jumlah dana yang terkumpul dan bentuk dukungan konkret yang dihasilkan dari kegiatan ini belum tercantum dalam informasi penyelenggara yang tersedia.
Aktivasi Komunitas dan Pengalaman Bersama
Rangkaian kegiatan juga dilengkapi dengan sesi aktivasi berupa penayangan video montase bertajuk Momen Bersama dengan Support System.
Sesi tersebut memberikan kesempatan kepada penonton untuk memperoleh hadiah berupa merchandise dari ITB Street Feeding. Aktivasi ini menjadi bagian dari rangkaian acara yang mempertemukan pengalaman menonton dengan interaksi antarpeserta.
Kehadiran sesi aktivasi memperlihatkan bahwa program pemutaran dapat dirancang dengan beragam bentuk keterlibatan. Selain menonton dan berdiskusi, peserta mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi melalui aktivitas yang disiapkan penyelenggara.
Dalam sebuah acara berbasis komunitas, pengalaman semacam ini dapat menjadi bagian dari upaya membangun suasana kebersamaan. Penonton tidak hanya datang untuk menyaksikan film, tetapi juga menjadi bagian dari kegiatan yang mempertemukan berbagai kelompok dengan latar belakang dan kepentingan berbeda.
Acara dimulai pada pukul 13.30 WIB dengan pembukaan oleh Kelvin Limanto dan Fahira Azzahra selaku pembawa acara. Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan LFM ITB, Ophiuchus Project, Bahasinema, dan ITB Street Feeding.
Setelah sambutan, Nanda Maulana membacakan catatan program sebelum pemutaran film dimulai. Kegiatan kemudian berlanjut ke sesi diskusi dan aktivasi, lalu ditutup dengan foto bersama di Ruang 9009, ITB Ganesha.
Kolaborasi sebagai Model Pengembangan Ekosistem Film
Keterlibatan Ophiuchus Project, Bioskop Kampus LFM ITB, Bahasinema, dan ITB Street Feeding memperlihatkan bentuk kolaborasi yang mempertemukan beberapa unsur dalam ekosistem kebudayaan.
Ophiuchus Project membawa karya film dan inisiatif program. Bioskop Kampus LFM ITB menyediakan ruang pemutaran dalam lingkungan pendidikan. Bahasinema berkontribusi melalui pemrograman film, sedangkan ITB Street Feeding membawa perhatian terhadap pemeliharaan dan perawatan kucing liar di sekitar kampus.
Masing-masing pihak memiliki peran yang berbeda, tetapi kegiatan ini mempertemukan kontribusi tersebut dalam satu agenda bersama.
Bagi ekosistem film independen, kolaborasi antarkomunitas dapat menjadi salah satu jalan untuk memperluas ruang apresiasi. Tidak semua film bergantung pada jalur distribusi komersial untuk menjangkau penonton. Program pemutaran komunitas juga dapat memberikan ruang bagi karya untuk bertemu dengan audiens yang memiliki minat atau perhatian tertentu.
Di sisi lain, keterlibatan komunitas sosial menunjukkan bahwa ruang pemutaran memiliki potensi untuk menjangkau isu-isu yang lebih luas daripada sekadar pembicaraan mengenai film.
Potensi tersebut membutuhkan kesinambungan agar percakapan yang muncul dalam sebuah acara dapat berkembang menjadi kerja bersama. Pemutaran, diskusi, dan penggalangan dana merupakan bagian dari proses, sementara keberlanjutan program dan dampak sosialnya memerlukan tindak lanjut yang sesuai dengan kebutuhan komunitas.
Melampaui Layar
Should We Save the Cat? menempatkan film sebagai titik awal untuk mempertemukan pengalaman artistik dengan kepedulian sosial.
Melalui empat film pendek, diskusi bersama pembuat film, keterlibatan ITB Street Feeding, serta kegiatan crowdfunding, program ini membuka ruang perjumpaan antara dunia sinema dan perhatian terhadap kehidupan hewan di lingkungan kampus.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari perjalanan distribusi Meong! (2026), karya Fransiska Fernanda yang diproduksi oleh Ophiuchus Project.
Lebih dari sekadar agenda pemutaran, program ini memperlihatkan kemungkinan penggunaan ruang kebudayaan sebagai tempat bertemunya gagasan, komunitas, dan tindakan kolektif.
Pada akhirnya, pertanyaan yang diajukan melalui judul Should We Save the Cat? dapat dibaca sebagai undangan untuk merefleksikan hubungan manusia dengan makhluk hidup lain yang berbagi ruang dengannya.
Film tidak selalu menawarkan jawaban langsung atas persoalan sosial. Namun, melalui cerita, pengalaman menonton, dan percakapan setelahnya, film dapat membantu membuka pertanyaan yang sebelumnya tidak banyak diperhatikan.
Di Ruang 9009, ITB Ganesha, pertanyaan tersebut dihadirkan melalui sebuah program yang mempertemukan sineas, penonton, komunitas film, dan pegiat kepedulian terhadap hewan. Sebuah upaya untuk menunjukkan bahwa pengalaman menonton dapat menjadi awal dari percakapan yang lebih luas—tentang sinema, kehidupan bersama, dan tanggung jawab sosial.
Tentang Ophiuchus Project
Ophiuchus Project merupakan rumah produksi independen yang berbasis di Bandung, Indonesia, dan lahir dari inisiatif sejumlah alumni Liga Film Mahasiswa Institut Teknologi Bandung. Karya-karyanya mencakup Cecilia (2025), Meong! (2026), dan Intel Tepi Gerobak (2026), yang didistribusikan ke berbagai festival film dan program pemutaran.
Informasi Kontak Media
Ophiuchus Project
Narahubung: Vincentius Bhagaskara
WhatsApp: 085871707610
Dokumentasi
Dokumentasi kegiatan tersedia melalui tautan yang disediakan penyelenggara. Penggunaan dokumentasi wajib mencantumkan kredit kepada Dokumentasi Sosial LFM ITB.









