Bandung, 19 Juni 2026 – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang semakin pesat telah mengubah banyak aspek kehidupan manusia, mulai dari cara bekerja, berkomunikasi, hingga proses pengambilan keputusan. Fenomena tersebut menjadi inspirasi bagi mahasiswa Program Studi Film dan Televisi Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung untuk menghadirkan sebuah film pendek berjudul Perfecting A Flaw Until Nothing Remains, sebuah karya yang mengajak penonton merefleksikan hubungan manusia dengan teknologi di masa depan.
Disutradarai oleh Rizky Hanif Rahman, film bergenre drama satir ini mengisahkan perjalanan Samuel, seorang lulusan arsitektur muda yang sedang berjuang mendapatkan pekerjaan pertamanya. Namun, dunia yang dihadapinya telah berubah. Proses rekrutmen tidak lagi dilakukan oleh manusia, melainkan sepenuhnya dikendalikan oleh sistem berbasis kecerdasan buatan yang mampu menilai, menganalisis, dan menentukan kelayakan seseorang melalui algoritma yang kompleks.
Dalam usahanya untuk diterima bekerja, Samuel terus beradaptasi dengan berbagai standar yang ditetapkan sistem. Ia belajar mengubah cara berbicara, menyesuaikan ekspresi, memperbaiki kebiasaan, bahkan mengatur aspek-aspek personal dalam dirinya agar sesuai dengan parameter yang dianggap ideal oleh AI. Semakin jauh proses tersebut berlangsung, Samuel mulai mempertanyakan satu hal mendasar: apakah dirinya masih menjadi manusia yang utuh, atau hanya sekadar produk yang dibentuk untuk memenuhi ekspektasi sebuah sistem?
Menurut sutradara, Rizky Hanif Rahman, film ini lahir dari kegelisahan terhadap fenomena sosial yang saat ini mulai dirasakan oleh banyak orang, khususnya generasi muda yang hidup di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat.
"Film ini berangkat dari keresahan yang mungkin banyak dirasakan oleh generasi muda saat ini. Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, kita sering kali dituntut untuk terus menyesuaikan diri agar dianggap cukup. Dari situ muncul pertanyaan sederhana: apakah kita masih memiliki ruang untuk menjadi diri sendiri?" ujar Rizky.
Melalui narasi yang dekat dengan realitas saat ini, Perfecting A Flaw Until Nothing Remains tidak hanya membahas perkembangan teknologi AI sebagai alat bantu manusia, tetapi juga mengangkat isu yang lebih luas mengenai tekanan sosial, standar kesempurnaan, serta kecenderungan masyarakat modern untuk terus memperbaiki diri demi memenuhi ekspektasi yang diciptakan oleh sistem dan lingkungan sekitarnya.

Secara visual, film ini menggabungkan elemen desain arsitektur modern dengan estetika teknologi futuristik yang dingin dan terstruktur. Pendekatan tersebut dipilih untuk menggambarkan dunia yang semakin bergantung pada data, efisiensi, dan pengukuran objektif, sekaligus menciptakan kontras dengan sisi emosional manusia yang tidak selalu dapat dihitung atau diprediksi oleh algoritma.
Produser film, Sabila, menjelaskan bahwa proses pengembangan proyek ini telah dimulai sejak November 2025 sebagai bagian dari tugas akhir mahasiswa Program Studi Film dan Televisi ISBI Bandung. Selama proses produksi, tim melibatkan berbagai kolaborator dari lintas kampus, komunitas kreatif, serta sejumlah mitra media yang memberikan dukungan dalam berbagai aspek produksi hingga distribusi karya.
"Film ini merupakan hasil kerja kolaboratif yang melibatkan banyak pihak. Kami percaya bahwa isu yang diangkat memiliki relevansi yang kuat dengan kondisi masyarakat saat ini, sehingga kami berupaya menghadirkannya melalui pendekatan yang dekat dengan pengalaman generasi muda," ungkap Sabila.
Film Perfecting A Flaw Until Nothing Remains ditayangkan dalam rangkaian Apresiasi Karya dan Screening Film Tugas Akhir Mahasiswa Program Studi Film dan Televisi ISBI Bandung yang diselenggarakan di CGV Kings Shopping Center, Bandung. Penayangan tersebut menjadi bagian dari proses akademik mahasiswa sekaligus ruang apresiasi publik terhadap karya-karya sinema yang lahir dari lingkungan pendidikan seni.
Selain menjadi medium ekspresi kreatif, film ini juga diharapkan dapat membuka ruang diskusi mengenai dampak perkembangan teknologi terhadap kehidupan manusia. Tim produksi berharap penonton dapat melihat kembali relasi mereka dengan teknologi serta menyadari bahwa tidak semua aspek kehidupan dapat diukur, dinilai, atau disempurnakan oleh sebuah sistem.
Melalui kisah Samuel, Perfecting A Flaw Until Nothing Remains mengajak penonton untuk merenungkan satu pertanyaan penting di era digital: ketika dunia terus menuntut kesempurnaan, sejauh mana manusia harus berubah sebelum kehilangan dirinya sendiri?
Kontak:
Sabila Dwi Aninda
+6282123790013 / productionkupukupu@gmail.com





film ini keren banget, kita disuguhkan cerita yang sangat menarik dan memotivasii