news & Journals
Home » News  »  EXPRESCENE: FINAL DRAFT “THE LAST THING WE NEVER SAID” HADIRKAN DUA FILM PENDEK TUGAS AKHIR MAHASISWA ISBI BANDUNG DALAM SPECIAL SCREENING PENUH EMOSI
EXPRESCENE: FINAL DRAFT “THE LAST THING WE NEVER SAID” HADIRKAN DUA FILM PENDEK TUGAS AKHIR MAHASISWA ISBI BANDUNG DALAM SPECIAL SCREENING PENUH EMOSI

Bandung, 18 Juni 2026 — Program Studi Televisi dan Film, Fakultas Budaya dan Media, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung sukses menyelenggarakan EXPRESCENE: FINAL DRAFT "The Last Thing We Never Said", sebuah program special screening yang menjadi bagian dari rangkaian tugas akhir mahasiswa tingkat akhir. Acara yang berlangsung pada Kamis, 18 Juni 2026 di CGV Bandung Electronic Center (BEC) ini menampilkan dua karya film pendek, yaitu A House with a Breathing Fan produksi Gambar Goyang Films dan 42 Jam produksi Barasinema.

EXPRESCENE merupakan program pemutaran khusus yang dirancang sebagai ruang presentasi publik bagi karya-karya mahasiswa sebelum memasuki tahap distribusi yang lebih luas. Selain menjadi bagian dari proses akademik, program ini juga menjadi sarana untuk mempertemukan para pembuat film muda dengan penonton, komunitas film, akademisi, media, serta pelaku industri kreatif yang hadir untuk menyaksikan dan memberikan apresiasi terhadap karya yang ditampilkan.

Mengusung tema "The Last Thing We Never Said", program ini mengeksplorasi berbagai dinamika hubungan keluarga yang kerap menyisakan ruang-ruang kosong dalam komunikasi. Tema tersebut berangkat dari kenyataan bahwa banyak perasaan, penyesalan, harapan, maupun kasih sayang yang sering kali tidak pernah terucapkan hingga waktu tidak lagi memberikan kesempatan. Melalui pendekatan yang berbeda, kedua film mengajak penonton merenungkan pentingnya komunikasi, penerimaan, dan keberanian untuk menyampaikan hal-hal yang selama ini dipendam.

Film pertama, A House with a Breathing Fan, merupakan karya sutradara Bintang Samudra yang mengangkat kisah Evan, seorang remaja yang tinggal bersama neneknya di sebuah rumah keluarga Tionghoa yang dipenuhi benda-benda lama dan kenangan masa lalu. Di balik keseharian yang tampak sederhana, hubungan keduanya menyimpan berbagai ketegangan emosional yang lahir dari perbedaan generasi dan pengalaman hidup. Seiring berjalannya cerita, Evan mulai menemukan jejak-jejak trauma keluarga yang berkaitan dengan tragedi Mei 1998. Penemuan tersebut membawanya pada pemahaman baru tentang sejarah keluarga, kehilangan, identitas, dan upaya rekonsiliasi yang selama ini tertunda. Dengan pendekatan visual yang intim dan atmosfer yang penuh simbol, film ini menawarkan refleksi mendalam mengenai ingatan kolektif dan dampaknya terhadap hubungan antargenerasi.

Sementara itu, film kedua berjudul 42 Jam, disutradarai oleh Nurul Anbiya, menghadirkan kisah emosional tentang dua saudara yang harus menghadapi kemungkinan kehilangan ibu mereka setelah menerima kabar mengenai kecelakaan pesawat yang ditumpanginya. Dalam rentang waktu 42 jam yang penuh ketidakpastian, keduanya dipaksa berhadapan dengan berbagai konflik keluarga yang selama ini mereka hindari. Ketegangan, rasa bersalah, dan penyesalan perlahan muncul ke permukaan, memperlihatkan bagaimana ancaman kehilangan dapat mengubah cara seseorang memahami hubungan keluarga. Melalui narasi yang intens dan penuh emosi, film ini mengajak penonton merenungkan arti waktu, kesempatan kedua, dan pentingnya menyampaikan perasaan sebelum semuanya terlambat.

Selama penyelenggaraan acara, penonton tidak hanya menikmati pemutaran film, tetapi juga berkesempatan mengikuti sesi diskusi bersama para pembuat film. Sesi ini menjadi ruang pertukaran gagasan yang memungkinkan audiens memahami lebih jauh proses kreatif, latar belakang penciptaan karya, serta isu-isu yang diangkat dalam masing-masing film. Diskusi berlangsung hangat dan menunjukkan tingginya antusiasme penonton terhadap tema-tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama mengenai keluarga, memori, kehilangan, dan komunikasi interpersonal.

Kehadiran komunitas film, mahasiswa lintas program studi, dosen, praktisi perfilman, serta masyarakat umum turut memperkuat semangat kolaboratif yang menjadi fondasi penyelenggaraan EXPRESCENE. Acara ini menunjukkan bahwa karya mahasiswa tidak hanya berfungsi sebagai pemenuhan capaian akademik, tetapi juga mampu menjadi medium refleksi sosial yang relevan dan bermakna bagi publik.

Melalui EXPRESCENE: FINAL DRAFT, Program Studi Televisi dan Film ISBI Bandung terus berupaya menciptakan ruang apresiasi yang sehat bagi lahirnya sineas-sineas muda Indonesia. Program ini diharapkan menjadi langkah awal bagi perjalanan kedua film menuju berbagai ruang pemutaran yang lebih luas, baik melalui festival film nasional maupun internasional, program pemutaran alternatif, forum diskusi budaya, hingga platform distribusi lainnya.

Dengan terselenggaranya program ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman dalam memproduksi karya film secara profesional, tetapi juga belajar membangun dialog dengan audiens, memahami respons publik terhadap karya mereka, serta mempersiapkan diri untuk berkontribusi dalam perkembangan ekosistem perfilman Indonesia di masa mendatang.

Tentang EXPRESCENE

EXPRESCENE merupakan program pemutaran dan apresiasi karya mahasiswa Program Studi Televisi dan Film ISBI Bandung yang diselenggarakan sebagai bagian dari proses akademik dan pengembangan ekosistem perfilman kampus. Program ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk memperkenalkan karya mereka kepada publik sekaligus membangun jejaring dengan komunitas, media, dan pelaku industri perfilman.

8 thoughts on “EXPRESCENE: FINAL DRAFT “THE LAST THING WE NEVER SAID” HADIRKAN DUA FILM PENDEK TUGAS AKHIR MAHASISWA ISBI BANDUNG DALAM SPECIAL SCREENING PENUH EMOSI

  1. acara ini sangat seru sekali, selain bisa menonton fim, acara ini bisa menjadi forum diskusi tentang perfilman khususnya di daerah bandung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *